Showing posts with label Fantasi. Show all posts
Showing posts with label Fantasi. Show all posts

Friday, June 22, 2012

Putih dalam Jelaga


“Kau benar-benar tidak berguna!”

Aku menguap dengan lagak bosan, bersiap mendengarkan omelan harian.  Sekali lagi aku gagal membekukan sampel benih.  Langka, katanya.  Kemungkinan bisa memperbaiki musim, katanya.  Tapi sampel itu mencair dan membusuk sebelum mereka bahkan sempat memindai sel-selnya di bawah mikroskop.

“Sekedar membekukannya untuk beberapa hari pun kau tak sanggup?”

Kata-kata itu lagi.  Membosankan. 

“Kenapa tidak cari orang lain saja untuk melakukannya, kalau begitu?” sahutku, sengaja menanggalkan nada sopan yang seharusnya kugunakan pada seniorku.

Ia berjengit tak senang mendengar jawabanku, dan mendesis dalam nada dingin.

“Aku tak paham kenapa Pemantik Beku masih tersisa.”

BRAK!

Kuhantamkan telapakku pada meja di hadapanku, menatap nyalang.  Aku bangkit dari tempat dudukku, tak memedulikan kursi yang terbanting dengan keras akibat gerak tiba-tibaku, dan melangkahkan kakiku dengan marah meninggalkan ruangan itu.  Tanganku terkepal erat.  Gigi-gigiku bergeretak.  Aku sudah begitu sering mendengarnya, tapi tetap saja kata-kata itu mengiris toreh yang tak menyenangkan di benakku.

Aku sampai di pintu depan gedung, dan mendesah berat.  Aku sengaja keluar untuk mendinginkan kepalaku, tapi sesungguhnya di luar sana tidak lebih baik.  Kutengadahkan wajah, menerawang jauh pada batas semu langit, memandangi apa yang tersisa.

Negeri kami tak pernah sama lagi. Sejak Ledakan Panas itu menerjang bertahun-tahun lalu.  Panas Inti dari Bumi meluap terlalu besar, nyaris menghanguskan kami semua menjadi jelaga.  Beruntung Tetua mampu membentuk dinding tak kasat mata di sekeliling kami, melindungi dataran kami dengan selubung bagai kubah transparan raksasa.  Panas Inti tak lagi dapat menjamah kami, namun percikannya telanjur meresap pada tanah-tanah di bawah kaki kami, mengubah segala yang dulu kami tahu.

Musim telah punah.  Sisa-sisa Panas Inti dalam wujud Sulur yang terperangkap di dalam Selubung membunuhnya, menyisakan kering yang tak berujung bagi kami.  Tapi kami tak tahan menghadapi kenyataan bahwa negeri kami telah kerontang.  Maka para Penggenggam Energi berusaha membuat seolah tak ada yang berubah, seolah Bumi masih memiliki wajah-wajah rupawannya meski waktu tak lagi akan berganti bagi tiap musim.

Para Pemetik Matahari akan mengubah suhu, mencipta hangat bagi musim semi.  Para Pengembala Angin akan membantu bunga-bunga menyebar serbuk mereka untuk merekahkan kuncup.  Para Pembenih Warna akan melaburkan kuning dan jingga pada dedaunan demi musim gugur.  Dan Pemantik Beku sepertiku?  Sebagaimana sering dikatakan padaku, kami tidak berguna.  Kami tak dapat mencipta musim dingin.  Panas Inti menelan habis sumber-sumber air kami.  Untuk bertahan hidup, kami bersusah payah  memeras batang-batang pohon penyimpan air.  Siapa yang mau merelakan tetes-tetes air yang begitu langka untuk kami ubah menjadi bulir-bulir salju sementara ancaman mati kehausan menghantui kami?

Mungkin memang sebaiknya Pemantik Beku turut punah.  Toh jenis kami yang tersisa bisa dihitung dengan jari.  Dan tak banyak yang dapat kami lakukan bagi pemulihan negeri.  Terutama aku.  Pori-pori Energiku begitu sempit, tak mampu menyalurkan titik-titik beku terlalu jauh dari permukaan kulitku.  Karenanya apa pun yang kubekukan tak pernah bertahan lama.  Karenanya pagi hariku selalu dimulai dengan omelan.

“Kai!”

Aku terbangun dari lamunanku, menoleh ke arah sumber suara, dan seketika senyum lebar melengkung di wajahku.  Kurentangkan lenganku, menyambut langkah-langkah kecilnya yang berlari padaku.  Ia tertawa senang ketika sampai di pelukanku, dan kudekap ia erat, mengalirkan desir dingin pada tiap jengkal kulitku yang merengkuhnya. 

“Ah, sejuk sekali,” ia mendesah nyaman, memejamkan matanya, “terima kasih.”

Aku tersenyum.  Seharusnya akulah yang berterima kasih.  Lulu, pemilik mata secemerlang bintang dan senyum seindah matahari terbenam itu adalah satu-satunya yang membuatku berpikir aku masih memiliki arti.  Ia ringkih, kulitnya lebih rentan suar panas dibandingkan kebanyakan dari kami.  Sebisa mungkin aku berupaya menemuinya di sela-sela tugasku sebagai Penggenggam Energi.  Aku selalu berusaha untuk menjaganya rapat dalam pelukanku yang kusepuhi dingin.  Ia bilang ia beruntung memilikiku untuk menyejukkannya.  Tapi sebetulnya, akulah yang merasa disejukkan olehnya, bahkan tanpa ia melakukan apa pun.  Hanya dengan ada di dekatku.

Aku terus menggenggam tangannya, mempertahankan dingin pada jemariku yang bertautan dengan miliknya sepanjang perjalanan.  Ia mengisahkan padaku tentang pohon maple yang berada di depan jendela kamarnya, tentang daun-daunnya yang merona dalam musim gugur, yang melayang jatuh dari dahan-dahannya ketika ditiup sepoi angin, menghujani pemandangan sepanjang harinya dengan rinai lembayung yang indah.

Aku tersenyum, dan kupandangi Lulu dengan rasa sayang tak terkira.  Ia bukan Penggenggam Energi.  Dan matanya tak mampu mengenali warna.  Segalanya berada dalam jangkau kelabu hingga nyaris hitam di penglihatannya.  Tapi ia mampu melihat segala tentang hidup lebih berwarna dari semua orang yang pernah kukenal.

“Tapi, aku juga merindukan salju.”

Aku tersentak mendengar perkataannya yang tiba-tiba, dan kutatap ia dengan bingung. 

“Selama ini aku selalu melihat putih yang dilaburi kelabu dari warna-warna musim,” ia melanjutkan, suaranya diiringi harap, “tapi aku tak pernah melihat putih yang sesungguhnya.  Aku tak pernah kenal musim dingin.  Aku tak pernah tahu warna salju.”

Rasa sedih menggumpali rongga lisanku.  Aku tak bisa mengabulkan keinginannya.  Jangankan membuat salju, membekukan benih pun aku tak mampu. 

“Oh, Kai, jangan sedih!” Lulu memeluk lenganku, menengadah memandangku, yang memalingkan wajah darinya.  “Aku hanya bergurau!  Itu cuma khayalanku saja!”

Tetap saja.  Aku tak bisa memenuhi harapannya—yang kutahu bukan sekedar canda.

Lulu mempererat dekapannya di lenganku, kudengar suaranya menyendu, “Bagiku tak apa salju tak ada, asalkan Kai selalu ada di sisiku.”

Aku masih diam.

“Aku hanya butuh Kai.”  Isak mulai menjejak masuk dalam kata-katanya.  “Hanya Kai saja.”

Aku tak tahan.  Akhirnya kukembalikan pandanganku padanya, menariknya ke dalam pelukanku sekali lagi, membenamkan wajahku pada ceruk bahunya.

“Kai tidak akan pernah meninggalkanku, kan?”

Tanpa perlu pikir panjang, aku mengangguk, “Aku janji.”

Karena aku membutuhkannya lebih daripada ia membutuhkanku.

Senyumnya terbit, membawa ketenangan kembali dalam dadaku, dan sisa hari itu kami jalani dengan senyum satu sama lain di sisi.


Pagi esok hariku tidak dimulai dengan omelan.  Gumam-gumam risau merayapi ruang.  Bisik-bisik cemas terasa di udara.  Ada yang tak beres.  Dan benar saja.  Tak lama, Tetua mengumpulkan kami semua.  Beliau menyebut Badai Panas akan tiba tak lama lagi, membuat kami semua tercekat.  Ini memang bukan yang pertama kali.  Selalu ada saat-saat ketika Panas Inti menggelegar lebih kuat dari biasa dan sebagian menembus melewati celah-celah tipis pada Selubung.  Dan meski kami selalu selamat melewatinya, ketakutan tak pernah lepas dari kami.  Trauma kami akan Ledakan Panas terlalu besar membekas dalam ingatan kami.

Tanpa menyiakan lebih banyak waktu, kami semua segera berpencar, terutama para Pembisik, mereka mengirimkan bulir-bulir suara untuk menyampaikan pesan itu bagi seluruh penduduk negeri, memberitahu mereka untuk berlindung.  Aku melajukan kakiku keluar.  Pikiranku dipenuhi wajah Lulu.  Ini hari Sabtu, dan ia selalu pergi memetik buah-buah berry yang hanya tumbuh hari itu di Hutan Tepi yang berbatasan langsung dengan Selubung.  Aku harus sampai di rumahnya sebelum ia berangkat.

Atap rumahnya yang berwarna merah bata menyala terlihat.  Aku mempercepat lariku, berhenti tepat di bawah jendela kamarnya, dan berteriak memanggilnya.

“Lulu!” 

Tak ada jawaban.  Tak ada tangan mungilnya bergerak membuka daun jendela.  Tak ada wajahnya melongok keluar.  Tak ada senyumnya menyambutku. 

Rasa panik menyergapku, menyebar dalam tubuhku seperti racun.  Kembali aku berlari, menghalau panas yang mulai menguapi udara di sekelilingku, mengabaikan teriakan-teriakan para Pembisik yang menyuruhku untuk kembali.  Sulur Panas semakin kuat kurasakan mencengkeram kulitku.  Sudah dekat waktunya.  Tapi aku tak peduli.

Aku harus menemukannya.  Harus.

“Lulu!”

Aku sampai di Hutan Tepi, dan apa yang kulihat membuat dadaku seolah dihantam batu besar.  Ia ada di sana.  Terbaring di antara semak-semak berry, tampak tak sadarkan diri.  Aku berlari ke sisinya, mengangkatnya ke pelukanku.  Kurasakan tubuhnya melemah di lenganku.  Kulitnya kemerahan, nyaris melepuh.  Wajahnya pias.  Napasnya dangkal.  Nyeri tak terkira kurasakan.  Melihatnya terluka adalah salah satu hal yang paling tak kuinginkan.  Kuangkat ia lebih dekat padaku, kubisikkan namanya perlahan dengan gemetar, memohonnya untuk bangun.

“Kai…?”

Matanya terbuka dalam garis tipis, dan aku melenguh lega karenanya, mendekapnya erat, seolah melepaskannya akan membuatku kehilangannya selamanya.

“Shh, sudah tidak apa-apa,” kataku dengan nada lembut untuk menenangkannya, hendak mengangkatnya dari tanah.  “Aku ada di sini.  Kita pulang sekarang.”

Ia tersenyum lemah, mengangguk.  Kugendong ia di dadaku, memastikan tiap permukaan kulitku terlapisi dingin untuk melindunginya.  Aku menggerakkan kakiku untuk meninggalkan tempat itu—sebelum jatuh terjerembab.

Aku menoleh, dan kulihat Sulur Panas mengelilingi kakiku.  Sulur itu lebih tebal dan nyalang dari yang pernah kutahu, membara dalam merah yang berpendar mengancam, memerangkap pergelangan kakiku bagai jemari-jemari besar yang kuat.  Aku meraung ketika kurasakan panasnya begitu tajam menembus kulitku, seolah mencapai tulangku.

Ini aneh.  Meski tidak dapat sepenuhnya disebut tak terlihat, Sulur Panas tak pernah tampak sepadat ini.  Selama ini Sulur hanya tersadari daam bentuk percik-percik panas di sela udara di sekeliling kami, merambat dalam uap tak terlihat di antara kaki-kaki kami.  Tapi tidak pernah senyata ini. 

Sulur Panas seharusnya tak berwujud.

Kubawa pandanganku menelusuri sepanjang Sulur, berusaha mencari sumbernya, dan mataku membelalak tak percaya.  Sulur itu berpangkal pada celah di Selubung.  Tidak, bukan sekedar celah yang ada di sana, tapi retak.  Retak besar hingga membentuk lubang yang kasat mata.  Kulihat Sulur itu berusaha mengikis tepi-tepi retak itu sedikt demi sedikit, memperbesar diri menjadi kobaran.

“Lulu, lari!”

Ia ketakutan, namun tak beranjak dari tempatnya.  Ia mencengkeram punggungku, menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Aku tidak mau meninggalkan Kai!”

Aku terperanjat.  Aku akan senang mendengarnya seandainya kami tidak sedang dihadapkan pada Sulur yang siap melalap habis kami tanpa pandang bulu.  Tapi keselamatannya adalah prioritas satu-satunya bagiku.  Aku sudah membuka mulut untuk menyuruhnya pergi lagi, ketika salah satu jemari Sulur mengarah pada kami.  Kutarik Lulu ke belakang punggungku untuk melindunginya, dan kurasakan bara memecut wajahku.  Lulu memekik.  Robek besar muncul di pipiku, mengucurkan darah segar.  Belum juga aku terbiasa dengan rasa sakit itu, dan satu lecutan kembali menghajarku, kali ini mengoyak lenganku.

Lecutan-lecutan itu terus datang, dan aku mati-matian berusaha menghalaunya dengan melemparkan keping-keping beku ke arahnya, mengerahkan segenap Energiku.  Tapi Sulur itu lebih kuat.  Keping-keping bekuku dengan mudah dihancurkannya, kembali melecutku.  Membentuk luka-luka besar pada lenganku, tungkaiku, sisi tubuhku, melemahkanku dengan seketika.  Merah pekat menghiasi tubuhku, tapi aku berusaha tetap berdiri di atas dua kakiku, menamengi Lulu, menolak untuk membiarkan terluka lebih jauh.  Kusadari Sulur itu semakin menebal, bergulung bagai ombak api.  Retak itu telah membesar. Tepi-tepinya bergetar rapuh, menghantarkannya lebih jauh ke permukaan Selubung, seolah hendak meruntuhkannya.

Kalau begini terus, seluruh negeri akan terbakar.  Seisi negeri akan musnah.  Dan aku akan kehilangan Lulu.

Kupalingkan pandanganku, dan kudapati Lulu menatapku.  Ketakutan jelas terpeta di garis parasnya, matanya disaputi air mata, bibirnya bergetar dalam cemas yang tak terucap, dan kedua tangannya masih tak melepaskan pegangannya dariku.  Aku tak suka melihat sedih terlukis di wajahnya.  Aku tak suka perih merusak teduh matanya.

Aku ingin senyum itu selalu ada di sana.

Perlahan, kubuka kaitan jemarinya dari punggungku dengan lembut.  Ia menyadari apa yang hendak kulakukan, dan dicengkeramnya tanganku kuat-kuat, menggeleng-gelengkan kepalanya seraya terisak.  Kugenggam sepasang tangan mungilnya, menyentuhkannya perlahan pada bibirku.  Dan dengan satu senyum lebar, kulepaskan ia.

Aku melangkah menghadang Sulur Panas itu, berjalan lurus padanya.  Lulu memanggil-manggil namaku, memohonku kembali.  Mendengarnya tersedu mengiris-irisku dari dalam.  Kupejamkan mata, menguatkan tekadku, berusaha agar tak goyah.  Seraya melangkah semakin merapat pada kumparan Sulur itu, kunyalakan beku dari dalam tubuhku. 

Pori-pori Energiku memang terlalu sempit.  Aku tak pernah bisa memancarkan titik-titik beku jauh dari permukaan kulitku.  Tapi sangat mudah bagiku untuk menyalurkannya pada tubuhku sendiri.  Ke bawah lapisan kulitku, menembus otot-ototku, melewati ikatan-ikatan tulangku, menyusupi pembuluh darahku, hingga menangkap jantungku.

Kubekukan seluruh tubuhku dengan meraup semua Energi yang kupunya, mengeraskannya dalam dingin yang tak pernah kucipta sebelumnya.  Kusisakan sedikit kesadaranku untuk mengangkat tungkaiku terus bergerak.  Sulur-sulur kembali menghajarnya, semakin garang seolah mengejekku, tapi tak lagi mampu menggoresku.  Tubuhku seolah kebal dengan perisai es yang melekat langsung di kulitku. 

Dan sampailah aku pada sumber retak itu.  Muntahan apinya berusaha mendorongku menjauh, tapi aku bergeming.  Aku tak akan mundur.  Tak akan.  Kutolehkan wajahku untuk terakhir kali.  Lulu berurai air mata, tangannya terjulur, memohon agar aku menyambutnya.  Sekali lagi aku tersenyum, dan kulambaikan tanganku padanya.

“Aku akan segera kembali.”

Dan dengan satu langkah terakhir, kusongsong retak itu.  Lulu menjerit, dan satu ledakan besar memenuhi langit.


Kai tak pernah kembali.  Kai berbohong padaku. 

Aku tak pernah melihatnya lagi sejak hari itu.  Retak pada Selubung tertutup dengan lapis kristal di tempat Kai pergi, memadamkan semua Panas.  Negeri kami selamat.  Semua orang selamat.  Tapi aku tak akan pernah bisa bertemu dengan Kai lagi.

Tak bisa kutahan satu lagi butir basah menuruni pipiku. 

Kau bohong, Kai.  Kau bohong.  Kau bilang tidak akan pernah meninggalkanku.  Kau bilang kau akan selalu ada di sisiku.  Kau bilang—

Isakku mendadak terhenti.  Mataku terbelalak lebar.  Tidak, ini pasti cuma khayalanku.  Kugosok kedua mataku, berharap dengan begitu ilusi itu mereda.  Tapi tidak.

Salju itu ada di sana.

Aku membuka jendela kamarku dengan cepat, memanjat tepinya, menengadahkan wajahku.  Butir-butir salju turun dengan gerak pelan tanpa suara, menitiki gelap langit malam.  Putih.  Tanpa bayang.  Tanpa kelabu.  Tanpa cela.

Warna putih yang sesungguhnya.  Warna milik Kai.

Kuulurkan tanganku, membiarkan sebutir mendarat perlahan di telapakku.  Dingin, sebagaimana yang diceritakan padaku tentang salju.  Tapi ketika aku menggenggamnya, kurasakan kehangatan menjalari ujung-ujung jemariku, menyelubungiku.  Menenangkanku, seperti yang selalu kurasakan ketika Kai mendekapku.  Dan, tahulah aku.

“Senang bertemu lagi denganmu, Kai.”


Malang, 29 April 2012
05:42

A/N: Written for Fantasy Fiction Competition 2012. And yes, dear Exotics, it's that 'Kai' and 'Lulu' #pentingbanget #plak =))

Monday, April 30, 2012

Segenggam Napas


Aku selalu ingat tiap kisahmu.

Bahkan kisah pertama yang kau ceritakan saat awal mula aku membuka mata.  Kisah penciptaanku.

Segalanya bermula dari deritamu.  Kau bilang kau begitu terluka.  Seorang yang kau cintai mengkhianatimu, meninggalkanmu terpuruk seorang diri, dengan lubang besar di hatimu, tak memedulikanmu terkapar berkubang tangis.  Lalu kau bilang kau akhirnya memilih untuk menjauh dari segalanya.  Semua wajah.  Semua mata.  Semua suara.  Kau sebut jika kau tak mencintai, kau tak akan perlu merasa tersakiti.  Kau sebut jika kau tak mengenal, maka kau tak akan perlu jatuh cinta.

Bertahun-tahun kau lalui hanya dengan dirimu saja.  Beberapa pernah berusaha membawamu keluar, menginginkan kecemerlangan pikirmu.  Tapi kau tak butuh segala ketenaran, kau tak perlu pengakuan.  Kau hanya ingin terjauhkan dari segala luka.  Maka tetap kau biarkan pintumu tertutup untuk hari-hari yang tak lagi terhitung.

Tapi kau tetap manusia biasa.  Kau beremosi.  Kau berasa.  Sebagaimanapun kau pikir bisa mematikannya dengan kesendirianmu, sepi tetap berhasil mencapaimu.  Kau ingin sesosok di sampingmu.  Tangan untuk merengkuhmu.  Suara untuk mencipta bunyi dalam sunyimu.

Maka kau tenggelamkan segala perhatianmu di sudut ruang kerjamu, berbulan-bulan, mengabaikan segala hal untuk menciptaku.  Bonekamu, begitu kau sebut.  Seperti bagaimana kau seringkali merangkai dedaunan dan batang untuk kau jadikan figur mungil untuk kau ajak bicara ketika tak ada yang mendengarkanmu saat kau kanak-kanak.

Tapi kali ini berbeda.  Kau ingin lebih dari sekedar batang boneka tanpa nyawa, yang bergeming di telapak tanganmu seberapa pun kau bicara padanya. 

Kau ingin mencipta sempurna.  Kau dayakan segala pikir dan tenagamu untuk mengukir rupaku.  Tiap ruas kulitku.  Tiap lekuk sendiku.  Tiap pahat parasku.  Kau buat aku bagai sosok tanpa cela.  Yang terlalu rupawan untuk jadi nyata.  Tapi dengan kemampuanmu, tak ada yang tak mungkin bagimu.

Bahkan untuk merajut jiwa bagiku.

Kau sebut jantung adalah yang tak boleh terlupa dari struktur manusia.  Tanpanya hidup manusia tak ada.  Maka kau pun tak lalai untuk membubuhkan yang sama untukku.

Kau membuatnya begitu serupa dengan yang kau miliki di balik jajar rusukmu.  Tapi hanya kau yang tahu bahwa jantung itu, yang kau sebut Kantung Jiwa, sesungguhnya tak lebih dari kumparan kawat dan sulaman besi, dililit kabel-kabel pengalir listrik, sebagaimana tubuhku juga terkonstruksi.  Seperti baterai, kau jelaskan padaku dengan sederhana.  Dengan satu pembeda besar. 

Bahwa Kantung Jiwa menyerap sebagian diri dari tangan yang membubuhkannya, menghidupkan yang seharusnya bukan makhluk, dengan kepemilikan pada si pemberi Jiwa.  Maka ketika kau tanamkan Jiwa itu dengan lembut di antara dadaku yang terbuka, kesetiaanku padamu tak terbantah.

Aku milikmu.  Dan tak ada yang bisa mengubahnya.

Kau cipta aku dengan ruang pikir hitam dan putih.  Kau sebut agar mudah bagimu mengajariku yang salah dan yang benar.  Aku tak pernah lupa pemahaman pertama yang kau berikan padaku.  Bahwa senyum adalah pertanda bahagia.  Bahwa tangis adalah perlambang nestapa. 

Dan sepanjang ingatanku sejak membuka mata, kau selalu tersenyum.  Kau bahagia memilikiku.  Tapi barangkali kau tak tahu kebahagianku lebih besar dari yang kau rasa.

Aku menyukai kurva itu di wajahmu.  Di mataku kau selalu tampak begitu cantik bahkan tanpa kau berusaha.  Dan dengan adanya senyum itu, kau bersinar begitu terang.  Kau berkilau menyilaukan.  Tapi aku tak pernah mampu melepaskan pandang darimu.

Kusadari aku telah belajar satu hal baru, tanpa kau menjabarnya padaku.

“Aku mencintaimu.”

Dan kuucapkan itu tanpa ragu.  Hanya untuk mendapat gelengan darimu. 

“Jangan katakan itu.  Kau tak memahaminya.  Kau tak mengerti cinta.  Dan tak akan pernah.”

Kenapa, kutanya.  Kenapa kau pikir aku tak paham.  Kenapa kau meragukanku.  Menyalahiku.

“Karena aku menciptakanmu begitu.”

Karena aku sesungguhnya tak lebih dari onggokan besi?  Karena aku sebetulnya digerakkan oleh sekedar jiwa buatan?  Lalu apa arti desir yang kurasakan dalam dadaku tiap kali kau tersenyum padaku?  Apa makna golak di perutku tiap kali kau datang memelukku?

Tapi aku tak ingin menjadikannya beban bagimu.  Biar kusimpan semuanya tanpa tersuarakan dalam tanya.  Meski tak kutahan ketika lidahku ingin mengucap dua kata itu.

Aku mencintaimu.  Dan akan terus begitu.

Kupeluk kau ketika dingin menyergap.  Kujaga kau dalam dekap ketika kantuk menyapamu.  Kutemani kau pada malam-malam ketika kau tak sanggup terlelap.  Tak pernah beranjak aku dari sisimu pada tiap apa pun yang kau lakukan. 

Lalu kukenali satu emosi baru.

Seorang yang kau sebut kawan lama mengunjungimu.  Seorang yang kau sebut dulu selalu menjadi tempatmu mencurahkan segala yang kau pikir, segala yang kau rasa.  Segala senang dan sakitmu. 

Kulihat kau tersenyum begitu benderang ketika menyambutnya.  Kuperhatikan kau begitu riang ketika bercakap dengannya.  Kuamati kau membawa dirimu masuk dalam rengkuhnya ketika menyapa.  Dan saat itu kurasakan jengit yang tak menyenangkan dalam benakku.

Aku tak menyukainya.

Tapi kau tersenyum ketika bicara padanya.  Bahkan tertawa pada ucapannya.  Kau bahagia.  Maka kubiarkan kau dengannya.  Kujaga kau dari jarak yang tak mengganggu, namun dekat untuk menangkap gerak-gerikmu. 

Hingga kudengar kau menyebut satu nama.  Milik seorang yang dulu meninggalkanmu.  Menyakitimu.  Tapi tak bisa sepenuhnya kau musnahkan dari ingatanmu.  Kau tanya pada kawanmu perihal kabarnya.  Dan ketika ia ceritakan tentangnya, mendadak tak kulihat lagi kerianganmu.  Senyummu hilang, suaramu disertai isak.

Kau menangis.

Detik berikutnya, kawanmu rubuh, terkapar di bawah kakiku.  Kuhantamkan buku-buku tanganku ke wajahnya.  Berkali-kali.  Bahkan setelah ia tak lagi bergerak memberi perlawanan.  Kau menjerit, memintaku berhenti, tapi aku terus menghajarnya.

Ia membuatmu menangis.  Ia membuatmu merasakan nestapa.  Dan aku tak akan memaafkannya.

Sekali lagi kau memekik.  Aku hendak mengabaikanmu lagi, lalu kudengar kau tersedu.  Menyebut namaku.  Memohon.

Gerakku semerta-merta kuhentikan.  Aku berbalik menghadapmu, yang sembab oleh air mata.  Kupeluk kau erat, membisikkan penghiburan agar kau hentikan tangismu.  Kau katakan kau tak apa-apa, dan kau minta aku untuk pergi ke kamar, diam di sana.  Kau bilang kau perlu merawat kawanmu terlebih dulu.  Aku tak mau.  Aku tak ingin kau berada dekat dengannya lagi.  Tapi sekali lagi kau memohon, dan aku tak bisa menolakmu.

Sebelum pergi, kuucapkan maaf.

“Aku melakukannya karena aku mencintaimu.”

Kau menjawabku dengan senyum lemah, dan angguk perlahan.  Kau bilang tak apa, kau bilang kau memaafkanku.

Hari-hari berlalu setelahnya.  Kawanmu sembuh, tapi tak pernah kulihat ia datang untuk kedua kali.  Aku senang karenanya.  Tapi aku tak menyukai perubahan pada dirimu sesudahnya.  Kini kau lebih banyak diam.  Senyummu tak semerbak dulu.  Kusadari sering kau alihkan pandang dariku.  Dan kutahu pikiranmu sering tak berada di tempat sama dengan kesadaranmu, bahkan ketika kau sedang berbincang denganku.

Hingga suatu pagi, kau membawaku ke ruang itu.  Tempat kau membangkitkanku.  Tempat segala barang-barang ciptaanmu kau simpan.  Ada yang perlu kau perbaiki dariku, kau bilang.  Kuturuti kau, kuikuti kau ke sana.  Kau dudukkan aku di salah satu kursi itu, dan kau bergerak ke belakangku.  Tanganmu membuka tengkukku, jemarimu lincah meraih sambungan kabel-kabel di dalamnya.

Aku menyukai sentuhanmu.  Membuatku merasa aku benar sepenuhnya milikmu.  Dan hanya kau saja yang dapat memilikiku.  Aku tersenyum, memejamkan mataku, menikmati ujung-ujung jarimu pada pembuluh buatan di belakang leherku.

Sampai kurasa kebas janggal pada kakiku.  Merambat naik ke pinggangku.  Punggungku.  Kedua lenganku. 

Apa yang kau lakukan terhadapku?

Kudengar isak itu lagi darimu.  Aku ingin memelukmu, tapi begitu berat bagiku bahkan untuk menggerakkan seruas jari.  Wajahmu di hadapanku kini.  Air mata membasahi kedua pipimu.  Dan kau ucapkan maaf.

“Aku melakukannya karena aku mencintaimu.”

Dengan satu sentakan terakhir, seluruh sendiku mati.  Kau membunuh semua kemampuan gerakku.  Aku kini tak lebih dari boneka kosong tanpa nyawa.  Sepotong besar besi tanpa penggerak. 

Kau bilang aku cacat.  Kau bilang aku belajar dengan cara salah.  Kau bilang aku berbahaya karenanya.  Kau bilang lebih baik aku begini. 

Diam.  Tak bergerak.  Bagimu aku mati.

Tapi kau salah.  Kau tak melumpuhkan Kantung Jiwaku.  Kau pikir cukup dengan memutus suluran syarafku.  Kau tak tahu pikiranku masih terjaga.  Kau tak tahu mataku masih melihat.  Kau tak tahu telingaku masih mendengar.

Dan dari celah tipis pintu yang tak pernah sepenuhnya kau tutup, aku tahu segalanya.  Hari-harimu kemudian tak pernah luput dari perhatianku.  Tiap hal kecil darinya.

Aku melihat ketika kau memutuskan untuk mencipta satu Boneka baru.  Aku melihatmu bekerja begitu keras untuk mewujudkannya.  Aku melihatmu begitu tekun mengukir tiap bagian dari sosoknya.  Yang kau sebut lebih elok dariku.  Aku melihatmu menghadiahinya Kantung Jiwa yang sama, menghadirkannya untuk hidup di dunia.  Aku melihatmu tersenyum dan memeluk menyambutnya bangun.

Dan kudengar kau sebut ia sempurna.

Aku tak menyukainya.  Aku tak menyukainya memelukmu ketika dingin.  Aku tak menyukainya mendekapmu ketika terkantuk.  Aku tak menyukainya menemanimu ketika malam tanpa tidur tiba.  Aku tak menyukainya di sisimu.

Aku tak menyukai caranya menyentuhmu.  Ia menjamahmu sebagaimana tak pernah kulakukan.  Ia mengecupmu.  Ia mencumbumu.  Dan kau membiarkannya.  Kau bahkan membiarkannya mengatakan ia mencintaimu.

Sekali lagi kau sebut ia sempurna.  Ia berpikir selayaknya dirimu.  Dengan logika, didampingi rasa.  Ia tak mengernyit ketika kawanmu datang untuk kesekian kali, berbincang hangat denganmu.  Ia tak berjengit ketika kawanmu memelukmu sebagai ganti sapa.  Ia pengertian, kau sebut.  Ia tak bercela, kau ucap.

Kau tak menyadari cacat yang dimilikinya. 

Suatu ketika kau mengajaknya duduk di sampingmu.  Ada yang perlu kau bicarakan, katamu.  Ia melingkarkan lengannya di bahumu.  Kau melepaskannya, ganti menggenggam tangannya, menatapnya lurus-lurus. 

Kau katakan kau mencintai kawanmu.

Ia terdiam.  Lalu menggeleng tak paham.  Apa maksudmu, tanyanya.  Bukankah kau hanya mencintainya saja, ia tuntut.  Kau kembali bicara, bersungguh-sungguh pada tiap kata yang kau bentuk.

Kau mencintai kawanmu.  Begitu besar.  Begitu kuat.  Begitu nyata.  Yang tak bisa dibandingkan dengan perasaanmu terhadapnya.  Bonekamu.  Sekedar ciptaannmu untuk mengisi kekosongan hari-harimu.

Ia paham kini.  Tapi bukan pengertian yang menyertainya. 

Ia menamparmu.  Begitu keras hingga kau terpental dari dudukmu.  Kau menatapnya tak percaya.  Terlalu terkejut untuk berkata-kata.  Dan aku terperanjat.  Aku ingin bangkit dan melindungimu.  Tapi sendiku kelu.  Tak ada yang bisa kulakukan.

Ia menamparmu lagi.  Lebih keras kini.  Ia berteriak marah.  Ia tak menerima pernyataanmu.  Ia tak menghendaki kau mencintai selain dirinya.

Kau berusaha meredakan amarahnya, berusaha memberinya pemahaman bahwa kalian tak lebih dari pencipta dan ciptaan.  Bahwa cinta di antara kalian adalah tak mungkin. 

Ia mengamuk.  Ia menerjangmu yang telah teringkuk di lantai.  Ia mengangkatmu, lalu menghempaskanmu kembali.  Ia menarikmu bangun lagi, lalu mendaratkan hantaman keras di wajahmu.  Kau meringis dalam perih.  Kau menangis dalam pilu.  Tapi ia tak menghiraukanmu.  Ia menusukkan pukulan ke tubuhmu.  Berulang-ulang.  Membuatmu menjerit.  Yang tak berguna untuk menghentikannya.

“Lebih baik kau lenyap dengan tanganku, daripada menghilang dari hadapanku oleh tangan lain.”

Dengan satu gerakan cepat tak tertangkap penglihatan, jemarinya membenam ke dalam dadamu. 

Kau memekik keras.  Darah mengalir darimu, menodai pakaianmu, membanjiri lantai di bawahmu.  Ia berhenti sejenak, mengira kau tak lagi mampu berbuat apa pun.  Dan dengan sisa kekuatan yang kau miliki, kau merangkak menuju ruangku, tempatmu mematikanku.  Dengan limbung kau berdiri bertopang pada bahuku, membawa tanganmu pada tengkukku, menekan satu tombol untuk menghidupkan gerakku.

Tapi aku telah terlalu lama lumpuh.  Tak bisa aku seketika memerintah lengan dan tungkaiku untuk menamengimu.  Dan dalam detik-detik perlahan ketika syarafku berupaya bangun dari tidur panjangnya, ia telah menangkapmu lagi.  Menarikmu menjauh dariku.  Menjatuhkanmu.  Menginjak-injakmu.  Memukulimu tanpa ampun.  Di hadapanku.  Dan masih belum juga aku mampu bergerak, syarafku begitu lambat mengaliri ruas-ruas tubuhku.

Wajah dan tubuhmu kuyup oleh kental merah.  Kau terengah-engah.  Napasmu dihambat nyeri tak terkira.  Ia berhenti menghajarmu, merendahkan tubuhnya untuk berlutut di atas tubuhmu yang telentang tanpa daya.  Ia tersenyum, begitu lembut, mencium bibirmu yang basah oleh darah.

“Aku melakukannya karena aku mencintaimu.”

Dan tangannya menembus tubuhmu.  Satu percikan besar memancar dari dadamu.  Merah.  Pekat.  Seolah terampas habis dari pembuluhmu.  Seolah hendak mencerabut nyawamu.

Aku meraung murka.  Kubawa tubuhku yang telah terjaga sepenuhnya untuk bangkit.  Kuterjang ia dengan semua kekuatan yang kumiliki, membuatnya menghantam dinding.  Kupojokkan ia, kucengkeram lehernya mengunci geraknya.  Ia melawan, meraup tanganku menjauh darinya, menohokkan lututnya di perutku.  Kulemparkan kepalan tanganku tepat di wajahnya.  Satu kali.  Dua kali.  Tiga kali.  Hingga kepalanya sebagian terbenam pada dinding di belakangnya.

Tapi aku dan ia bukan manusia.  Meski sepotong besar noda darah artifisial telah menghiasi tubuh kami, tak ada sakit yang kami rasa.  Ia menangkap tanganku pada pukulan keempat, memelintirnya.  Tanganku tak lagi berada di posisinya yang benar, dan derik-derik listrik muncul dari kulitku yang robek.  Syaraf lenganku rusak.

Ia memanfaatkan lukaku untuk menyerangku.  Aku jatuh menghantam lantai, dan ia mengamitku dengan kedua tungkainya, hendak menghujaniku dengan pukulan.  Aku menangkisnya, dan berusaha lepas dari pegangannya.  Kami bergumul.  Suara besi beradu keras memenuhi ruangan, memekakkan telinga.  Aku dan ia sama kuat.  Kami saling serang dengan daya setara.  Tapi ia mendapatkan keuntungan dengan satu lenganku yang tak lagi berfungsi, dan ia mampu membuat lebih banyak luka padaku.  Dengan sebelah tanganku tak berguna, aku tak mungkin menang darinya.

Tapi aku tahu satu hal yang tak diketahuinya.  Tempat nyawa kami berada.

Bersamaan dengan hantaman yang keras di peilipisku, kutancapkan tanganku di dadanya.  Kurentangkan jemariku, mengoyaknya terbuka.  Ia mengerang, berusaha menarik lepas tanganku, tapi telapakku telah mencapai Kantung Jiwanya, dan kucabut lepas dari tubuhnya.

Gerakannya terhenti seketika.  Ia jatuh dengan tubuh kaku, menghasilkan suara kelontang besar.  Matanya terbuka, tapi tak ada kesadaran di sana. 

Aku terengah memandang tubuhnya yang tak berkutik dalam kubangan darah, dengan jantungnya di tanganku.

Ia telah mati.  Sepenuhnya.

“…maaf,”

Suara itu menyadarkanku, dan aku berbalik.  Kau di sana, mengangkat tanganmu yang bergetar lemah, terarah padaku.  Aku berlari ke sisimu, menunduk memandangmu.  Kubelai wajahmu yang tak lagi bersemu, dikalahkan pucat.  Napasmu begitu dangkal, terpotong-potong dalam jeda panjang.  Matamu seolah berat untuk membuka.  Tapi jemarimu meraih sisi mukaku, menelusurinya dengan lembut.  Dan kau tersenyum.

“Maafkan aku….”

Sepasang kelopak matamu perlahan bergerak menutup.  Tanganmu yang mengulur terjatuh.  Denyutmu tak lagi kudengar.  Napasmu menguap hilang.

Mendadak seluruh tubuhku seolah mati rasa.  Gelap memenuhi pikiranku.  Lidahku diborgol bisu.  Engsel sendiku kaku.  Di depan mataku, kau tak lagi bergerak.

Tidak.

Tidak.

Kau tak boleh pergi.  Kau tak boleh meninggalkanku.  Aku mencintaimu.  Aku mencintaimu.  Aku tak bisa kehilanganmu.

Kau harus hidup.  Bagaimana pun caranya.

Kurasakan ketuk samar dalam telapakku.  Ujung mataku mengerlingnya, dan dari balik gumpalan darah yang menyelubunginya, kulihat bongkahan itu berdetak.  Kantung Jiwa itu masih hidup.  Nyawa itu ada di tanganku. 

Aku tersenyum.

Dan kusurukkan genggamanku ke dalam dadamu yang terbuka.



Akhirnya, aku memilikimu selamanya.


Malang, 29 April 2012
23:44